Pbun24jam,Kotawaringin Barat- Masalah bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap yang terus berulang setiap tahun kini tidak lagi hanya dipandang sebagai musibah alam murni. Asap pekat yang merenggut ruang napas masyarakat disinyalir kian bertaut erat dengan tindak kelalaian hingga motif ekonomi di balik pembukaan lahan.
gumpalan asap hitam dan abu-abu yang menyelimuti pemukiman warga serta jalur lalu lintas, terdapat ironi yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Di satu sisi, warga harus berjuang melawan sesak napas, ancaman ISPA, dan kelumpuhan akses jalan. Namun di sisi lain, gumpalan asap ini dinilai kerap lahir dari gumpalan kepentingan oknum-oknum yang sengaja memanfaatkan musim kemarau demi efisiensi biaya pembersihan lahan.
Praktik pembakaran lahan dinilai masih menjadi pilihan "instan" bagi sebagian pihak tanpa memikirkan dampak sosial dan kesehatan lingkungan yang masif. Transaksi kepentingan ekonomi jangka pendek ini menumbalkan keselamatan publik dan keasrian lingkungan hidup.
Masyarakat dan berbagai elemen penggiat lingkungan mendesak agar pemerintah beserta aparat penegak hukum tidak sekadar fokus pada upaya pemadaman di lapangan, tetapi juga berani membongkar dan menindak tegas aktor-aktor di balik benturan kepentingan pembakaran lahan tersebut.
Penanganan bencana karhutla memerlukan komitmen tegas tanpa kompromi. Hanya dengan menindak akar masalah dan kepentingan di baliknya, langit biru serta udara bersih dapat kembali dinikmati secara berkelanjutan oleh masyarakat(San/Pbun24jam).






